Jumat, 05 Desember 2025

Yapping Kebebasan: Kebebasan Mengikat, tetapi Keterikatan Membebaskan


Kita mulai dengan analogi sederhana ber-IQ 78: sebuah batu, bentuknya bulat, diletakkan di sebuah bidang (sangat) miring. Apa coba yang terjadi? Batu mulai menggelinding. Segala hal tentangnya menjadi deterministik. Percepatannya, kecepatannya, dan posisinya pada waktu tertentu dapat diprediksi. Selanjutnya kita akan menggunakan bahasan yang agak sains. Skip saja paragraf selanjutnya kalau otak mengepul.


Kebebasan batu

Dalam skala jumlah yang lebih banyak, perilaku banda takbebas masihlah deterministik, termasuk interaksi jutaan partikel yang dapat disimulasikan dalam molecular dynamics. Namun, ini bukan soal determinisme. “Partikel dalam kotak” mungkin dibilang tidak mengikuti kaidah determinisme. Bagaimanapun, prinsip mekanika kuantum, meski berbeda dari mekanika klasik, tetaplah mengikuti aturan (hukum alam). Elektron di sekitar atom tidak memiliki kehendak pribadi untuk tiba-tiba berhenti karena mager. Prinsip ketidakpastian Heisenberg, dikatakan takpasti pun, tetap mengikuti aturan.

Pusing? Dari sekian yapping berbumbu sains, intinya, batu dan berbagai macam benda tanpa kehendak, hanya bisa pasrah mengikuti hukum alam. Ini tak hanya berlaku untuk benda takhidup. Tanaman di atas pot hanya mati pasrah saat tidak disiram, plankton hanya mengikuti ke mana arus membawa, dan spons hanya bertapa di dasar laut. Mereka adalah makhluk takbebas.

Kebebasan kucing

Kembali ke bidang miring, kita ganti batu dengan seekor kucing (hidup, sehat, tidak cacat). Kali ini kita sebagai penonton lebih sulit memprediksi apa yang akan terjadi. Apakah kucing akan otomatis bergerak ke bawah, menggelinding seperti batu? Kucing memiliki kehendak. Ia bisa saja mendaki ke atas atau tiduran lalu merosot. Kita hadirkan harimau jawa, atau kapibara, atau kudanil sekalipun, kucing tidak serta merta menunjukkan reaksi yang predictable. Mereka bisa saja lari atau bersikap bodo amat.

Kucing bukan lagi makhluk takbebas. Ia memiliki kehendak dan ia bebas. Batu dipukul hingga remuk pun tak apa, tetapi kucing akan kabur menyelamatkan nyawanya. Namun, ke mana kebebasan membawa kucing? Sekarang kita tidak menaruh harimau jawa, kapibara, atau kudanil, tetapi kita taruh whiskas di atas bidang miring. Di sini, perilaku kucing akan cukup predictable. Kucing hampir pasti naik ke arah whiskas, apalagi jika dipanggil, “Pus!”

Kebebasan hewan selalu mengacu pada dua hal: memenuhi kebutuhan dan menghindari bahaya. Taruhlah kucing jantan di sebuah rumah besar dipenuhi ribuan kucing betina. Jadilah babu dan berikan dia makanan yang sangat banyak. Kita tahu kucing akan memilih untuk makan sebanyak-banyaknya dan memuaskan hasratnya pada kucing-kucing betina itu. Terprediksi. Dia tidak memahami konsep penyakit atau overweight. Kebebasan hewani dikendalikan oleh nafsu.


Kebebasan Manusia

Manusia tidak begitu. Atau tepatnya, manusia seharusnya tidak begitu, karena manusia memiliki kebebasan paling tinggi yang berdiri di atas fondasi pemahaman atas hukum sebab-akibat. Katakanlah bro memiliki uang tak terbatas. Bro bisa berfoya-foya, bersenang-senang, memakan apa pun, mabuk-mabukan, main wanita, dan sebagainya. Namun, semua ada konsekuensinya. Misal, hanya misal:

Makan apa pun → obesitas → mati

Mabuk-mabukan → merusak tubuh → mati

Main cewek → kena AIDS → mati

Singkat, padat, mati. Tentu itu hanya penyederhanaan. Dunia ini lebih kompleks, tetapi hukum sebab akibat berantai tetaplah berlaku, meski rantainya sepanjang Anyer-Panarukan. Pada akhirnya, kebebasan memiliki batasan karena hukum dunia yang tak terbantahkan.

Sekarang, bro memiliki gagasan tentang pola hidup sehat. Bro membatasi makanannya, hanya makan makanan berkualitas tinggi, mengurangi gula, tidak mabuk-mabukan, dan membayar mahal orang untuk menjadi penyuruhnya di gym. Sekarang, bro seolah menjadi terikat. Bro tidak bisa memuaskan nafsu seenak jidatnya. Namun, justru ini adalah bentuk kebebasan tertinggi, yang bukan lagi kebebasan hewani, tetapi kebebasan manusiawi: kebebasan akal. Bro yakin dengan menjalankan semua itu, ia akan menjalani hidup yang sehat dan tidak terkekang oleh penyakit. Maka, kebebasan hewani justru menjadi pengekangnya. Saat bro melihat kue bergula tinggi, lalu menggunakan uang tak terbatasnya untuk membeli dan memakan kue itu, di sinilah bro kehilangan kebebasan manusianya. Ia masih diperbudak oleh nafsu.

Bro hanyalah contoh sederhana di mana sebuah gagasan menjadi dasar atas kebebasannya sebagai manusia. Kita bisa perbesar skalanya dalam kehidupan sosial. Kita punya kehendak bebas untuk melaju di lampu merah, kita punya kebebasan untuk membuka baju dan berangkat kerja tanpa pakaian, atau melayangkan pukulan ke sembarang orang karena “Ini tangan gue, ya terserah gue.” Semua ada konsekuensinya. Seseorang melaju di lampu merah mungkin tampak tak apa. Namun ini akan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, karena, “Dia aja bisa. Kenapa gue harus nurut aturan?” Ketika semua orang melakukan hal yang sama atas nama kebebasan, maka sistem sosial yang sudah dibangun akan hancur. Padahal, manusia menjalani kehidupan yang lebih beradap dan efisien daripada hewan karena sistem sosial ini. Kebebasan akan membawa pada kehancuran.


Sebagai seorang introver, by default saya akan memilih untuk menghabiskan waktu main video game di kamar seharian. Namun, Islam menyuruh saya untuk keluar, berjamaah di masjid. Saya lakukan, dan akhirnya menyadari nikmatnya bersosial, menemukan rekan bisnis, sampai menemukan istri karena masjid. Islam juga menyuruh saya bersikap lemah lembut dan romantis kepada istri, menyisihkan harta untuk orang lain, menghormati orang tua dan guru, dan lain sebagainya. Semua itu menuntun pada kebahagiaan. Tentu ada banyak hal yang belum saya pahami sebab-akibatnya, tetapi pasti ada. Semua itu menjadi satu kesatuan nilai bernama “Islam”, termasuk di dalamnya salat, puasa, zakat, dan haji. Maka, saya akan jadi kehilangan kebebasan dan menjadi budak nafsu ketika saya meninggalkan aturan yang ada di dalamnya seperti jika meninggalkan salat.

Kita hanya benar-benar bebas jika bisa menjalankan gagasan kita murni digerekkan oleh akal, tanpa kekangan nafsu. Sekian yapping dari saya, sudahkah kalian salat hari ini?

Rabu, 12 Agustus 2020

Kembali ke Revolusi 2.0

M. Fahruriza Ridwan/untidar.ac.id


Revolusi industri 4.0 digadang-gadang untuk membawa perubahan besar industri di seluruh dunia. Indonesia, yang masih menjadi bagian dunia, tentu tak ingin ketinggalan langkah dan turut mengarus demi memenuhi tuntutan zaman. Seminar dan pelatihan digelar di seluruh penjuru negeri. Invensi dikembangkan di semua perguruan tinggi. Rasanya, tak mungkin negara seterbuka Indonesia ketinggalan dalam revolusi yang bertitik tolak pada kata kunci “era informasi” ini. Dengan menenteng berbagai macam teknologi yang tentu saja impor, Indonesia turut melangkah mengikuti jejak kaki negara-negara di depannya. Lantas, apa yang salah dengan ini? 

Indonesia memang selalu mengikuti perkembangan zaman dimulai dari revolusi industri di Inggris hingga kini revolusi 4.0. Namun, sejatinya Indonesia tak pernah khatam bahkan sejak revolusi pertamanya. Biarpun telah menggunakan mesin dalam proses produksinya, mesin yang dipakai adalah hasil ciptaan negara luar. Dalam revolusi kedua, di mana diterapkan produksi skala besar dan penggunaan energi listrik, lagi-lagi Indonesia mengimpor mesin. Kata mengikuti masih terlalu tepat untuk dipakai oleh Indonesia.

Kenyataan bahwa Indonesia tak bernah benar-benar berevolusi dalam dunia Industri sebenarnya masalah kecil. Toh sedari awal industri memang digerakkan oleh orang-orang barat yang harus hidup di tanah yang tak cukup subur. Mereka yang harus melewati musim dingin diwajibkan memutar otak untuk merancang teknologi demi bertahan hidup. Teknologi industri sudah di tangan mereka. Masalah terbesar adalah bahwa Indonesia bahkan tak pernah khatam revolusi hijau.

Di masa lalu, orang-orang barat selalu bermimpi menempati tanah surga di mana rerumputan tumbuh sepanjang tahun. Bahkan setelah kejatuhan Konstantinopel, mereka rela melalangbuana menaklukkan lautan demi menemukan surga ini. Surga yang juga menjadi sumber rempah-rempah ini tak lain adalah Nusantara, yang saat ini sebagian besar wilayahnya menjadi Negara Indonesia. Potensi terbesar negeri ini adalah posisi geografis yang menjadikannya beriklim tropis. Hal ini menjadikan berbagai macam komoditas pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang tak mungkin ditemukan di wilayah lain dapat tumbuh di Indonesia. Potensi ini tak cukup digali dan Indonesia malah larut dalam menyemarakkan revolusi yang bukan bidangnya. Sudah saatnya kita berhenti menari mengikuti genderang yang dimainkan orang lain dan mulai mencanangkan tujuan sendiri. Pertanian menjadi sektor yang menjanjikan untuk dijadikan titik tolak revolusi demi menopang masa depan bangsa.

Pangan sebagai kebutuhan primer manusia akan selalu dibutuhkan hingga akhir zaman. Terbukti semasa gencar-gencarnya isu lockdown, orang-orang berebut pangan hingga menguras supermarket. Apabila dihiperbolakan, ketika mendekati akhir zaman, saat dunia kehabisan energi untuk menopang teknologi, kita takkan butuh hiburan dan kemewahan, tetapi tetap butuh pangan. Karir bergaji tinggi seperti artis, influencer, pegawai minyak, takkan lagi dubutuhkan. Dunia hanya akan mengemis pada petani. Indonesia yang merupakan negara agraris tentu berpotensi merajai dunia.

Demi menciptakan masa depan bagi sektor pertanian, kita perlu menilik kembali buah manis yang dihasilkan selama revolusi hijau. Di Indonesia, revolusi hijau yang membawa perubahan fundamental bagi pertanian digerakkan oleh pemerintahan Orde Baru. Berbagai program dicanangkan demi menopang revolusi ini. Pembangunan sektor pertanian dilakukan di seluruh penjuru negeri. Alhasil, Indonesia yang awalnya mengimpor beras menjadi negara swasembada beras bahkan mengekspornya ke India. Namun, tentunya revolusi hijau memiliki kelemahan karena tak mempu menjadikan Indonesia swasembada pangan secara tetap. Revolusi hijau berakhir surut, tidak seperti revolusi industri yang naik tingkat. Di sinilah pentingnya menyongsong revolusi hijau 2.0.

Perlu dilakukan perubahan besar dalam dunia pertanian mulai dari daerah pelosok, pertanian kota, teknologi pertanian, agroindustri, hingga distribusi hasil pertanian. Revolusi hijau yang lalu tak sempat menjangkau petani-petani kecil dengan lahan kurang dari setengah hektar yang notabenenya hidup di daerah pelosok. Akibatnya, petani-petani kecil tak terbiasa dengan teknik dan teknologi pertanian. Patani di daerah Waduk Jatiluhur Karawang misalnya.

Ketika saya berkunjung ke daerah pelosok Karawang tersebut, petani-petani di sana masih memiliki pemikiran primitif seperti semakin banyak tanaman yang ditanam, semakin besar pula produktivitasnya. Padahal, dalam teori pertanian, terdapat jarak tanam yang optimal di mana produktivitas lahan menjadi maksimal. Demikian halnya dengan jumlah pupuk yang digunakan. Tak hanya pemikiran yang hanya berdasar asumsi, secara praktik pun mereka belum terbiasa dengan teknologi pertanian. Tak pernah sekali pun mereka menggunakan plastik mulsa yang sebenarnya sudah umum digunakan dalam pertanian.

Penyuluhan yang tidak menjangkau daerah pelosok seperti ini menjadi salah satu penyebab ketidakmajuan pertanian di sana. Mereka akhirnya memilih untuk menggunakan cara bertani secara turun temurun. Becermin dari revolusi hijau masa Orde Baru, diperlukan sumber daya manusia unggul yang siap terjun ke lapangan untuk memajukan pertanian pelosok. Era tersebut dapat menghasilkan sarjana-sarjana pertanian demi menunjang tujuan ini. Sayangnya, sarjana pertanian saat ini lebih memilih lari menjadi pegawai bank.

Revolusi hijau 2.0 juga mencakup perubahan mental para sarjananya. Penentuan tujuan yang jelas dalam pengembangan dan penelitian pertanian akan menuntun para sarjana ke jalan yang benar. Tak sekadar kecerdasan, kemamuan dan keberanian untuk bergerak para sarjana pertanian penting untuk menggencarkan perubahan fundamental pertanian Indonesia. Indonesia tak pernah kekurangan orang. Integrasi dan orientasilah yang kurang. Ketiadaan integrasi akan berakibat pada penelitian berulang yang hanya menelan biaya. Orientasi yang tak jelas membuat dosen sekadar mengejar gelar dan mahasiswa mengejar kelulusan.

Bergeser ke pertanian kota, urban farming menjadi topik yang menarik untuk terus dikaji dan dikembangkan. Badan Ketahanan Pangan pun telah merintis program Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Program ini bertujuan untuk mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk ditanami beragam tanaman demi terpenuhinya kebutuhan pangan keluarga. Ini adalah ide yang brilian. Tidak mustahil di negeri yang katanya kayu saja bila dilempar sembarangan akan tumbuh menjadi pohon ini untuk mengimplementasikan hal tersebut. Tentu saja, dalam revolusi, program ini harus digencarkan di seluruh penjuru negeri.

Kementerian Pertanian telah memberikan contoh P2L melalui pekarangan Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Jakarta. Baru-baru ini, pekarangan TTIC telah digarap dengan apik dan mampu menghasilkan komoditas sayuran segar. Bagaimana bila tak hanya TTIC, melainkan taman-taman kota juga ditata menjadi urban farming? Selanjutnya, di trotoar, daripada dibiarkan tertutup semen, alangkah lebih baik bila disediakan sederet tanah untuk ditanami sayur-sayuran. Pegawai kebersihan bisa diserahi tugas memelihara sayur-sayuran ini dan mereka pula yang akan menikmati hasilnya. Jadi, selain mendapatkan gaji yang tak seberapa, pegawai kebersihan juga dapat mengambil untung dari sayur-sayuran ini.

Bila setiap meternya wilayah Indonesia ditutupi oleh tanaman hijau yang tertata rapi, Indonesia bisa memiliki trademark sendiri, bukan saja sebagai daerah agrowisata, melainkan negara agrowisata. Bali bisa menjadi sampel pesona agrowisata yang mampu menarik turis asing di samping pantainya. Inilah pentingnya menggali dan memamerkan potensi pertanian Indonesia. Memang tak salah mengikuti perkembangan zaman membangun revolusi industri 4.0. Namun, Indonesia perlu memiliki tujuan sendiri yang harus dikejar dengan memanfaatkan potensinya agar tak terus menerus dipermainkan negara orang. Revolusi hijau perlu dikhatamkan.

Sumber gambar: M. Fahruriza Ridwan, untidar.ac.id

Senin, 22 April 2019

Kisah Tokyo: Warna Akihabara

Hasil gambar untuk akihabara

Tak pernah kusaksikan fenomena kota yang begitu berwarna melebihi Akihabara. Warna-warni itu bahkan tak tertutup oleh efek sepia sang senja. Kota bercahaya ini dihidupkan oleh lalu lalang manusia yang tak peduli waktu. Kombinasi dinamika dan warna menjadikan kota Akihabara sebuah mega karya seni tersendiri. Kami berdua menyusuri jalan kecil, siap menjadi salah satu penyumbang dinamikanya. Sebagai malam terakhir di Tokyo, belum afdal bila kota yang terkenal hingga penjuru dunia ini tak kami kunjungi. Tidak ada tujuan luar biasa yang mengiringi perjalanan kami kali ini. Meski begitu, hatiku tetap tersenyum bersama angin yang berhembus tak berarti. Di sini, aku bisa menemukannya: “suara pertama dari masa depan”.

Apa yang kita perlukan ketika tidak tahu arah? Beruntung aku sempat berguru kepada Dora si petualang semasa kecil. “Peta!” Begitulah katanya. Kami berhenti di depan sebuah toko. Terpampang karakter Makise Kurisu dengan rambut merah berkibarnya dari novel dan anime fenomenal Steins Gate pada selembar kertas dengan warna dominan merah jambu. Negeri ini memang tak tanggung-tanggung. Bahkan lembaran brosur yang dapat diambil gratis didesain begitu berseni dan penuh warna. Turis, terutama yang berasal dari luar negeri sepertiku akan sangat terbantu dengannya. Di dalamnya, tersimpan peta Akihabara yang memberikan pencerahan akan tujuan kami.

Bila dalam teknologi Jepang dibilang maju, dalam hal seni, Jepang adalah dunia lain. Negeri ini menciptakan aliran seninya sendiri. Karakter berwajah imut dengan mata lebar, rambut warna-warni, dan terkadang bertelinga hewan menjadi ciri khas gambarnya. Figur-figur ini mengiringi berbagai brosur, poster, hingga sepanduk raksasa. Lumrah bagi Akihabara yang dikata pusat anime memajang berbagai figur anime di setiap bangunannya. Melalui anime, aliran seni ini telah merasuki negara-negara di dunia. Bahkan aku telah mengenalnya sejak kecil melalui anime-anime lawas seperti Tsubasa dan Dragon Ball. Akibatnya, terbentuklah sebuah subkultur baru dalam tatanan masyarakat yang disebut otaku.

Keberadaan anime juga menjadi penopang eksistensi sastra di Jepang. Banyak anime yang tayang di berbagai belahan bumi diadopsi dari novel dan manga. Dengan pengemasan cerita yang menarik, manga dan novel-novel Jepang berhasil menarik minat masyarakat dunia. Tak heran banyak turis luar negeri yang mengunjungi kota ini. Latar belakang inilah yang menjadi landasan langkah kami menuju Book Off.

Book Off menjadi koleksi lema baru dalam pustaka otakku setelah kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) hari sebelumnya. Dalam rangka implementasi budaya 3R (reduce, reuse, recycle), Book Off hadir sebagai tempat penjualan buku-buku bekas. Kami menginjakkan kaki di lantai terakhir begitu mendapati apa yang kami cari tak ada di lantai-lantai sebelumnya. Dan di sinilah mereka, novel-novel yang telah lepas dari pemegang pertamanya berkumpul rapi. Novel ringan yang sudah mendapat nama seperti Sword Art Online hingga yang tak kuketahui sama sekali dapat ditemukan. Sampul yang memajang karakter khasnya tetap mulus tanpa cacat seolah barang baru. Perjalanan panjang ini membuktikan bahwa kebiasaan orang Jepang dalam menjaga barangnya bukanlah mitos belaka.

Berbicara soal 3R, Akihabara juga menjadi tempat di mana kita bisa mendapatkan barang-barang elektronik bekas. Toko di kanan-kiri jalanan sempit yang kami lalui pertama kali memajang berbagai perangkat elektronik layaknya beras kiloan. Laptop-laptop bekas dijajarkan dalam keranjang seolah pakaian obral. Soal harga, tak perlu dipertanyakan. Bahkan, komputer mulus dengan layar lebar bisa didapatkan hanya dengan sepuluh ribu yen, setara dengan satu seperempat juta rupiah. Memang pantas Akihabara menyandang gelar sebagai pusat elektronik.

Begitu keluar dari Book Off, kami beranjak menuju tempat berikutnya. Saatnya menemukan titipan temanku. Ialah action figure Hatsune Miku. Dalam lingkungan otaku, nama Hatsune Miku tentu sudah tak asing. Dia adalah vocaloid, sebuah program komputer yang dapat menyintesis lagu dengan figur seorang gadis berambut biru. Namanya sendiri secara harfiah berarti “suara pertama dari masa depan”. Meski hanya program, hologram Miku telah tampil di berbagai konser dan bahkan mengalahkan jumlah penggemar penyanyi nyata. Sekali lagi, Jepang memanglah “dunia lain”.

Kami kembali menyusuri jalan kecil itu. Mbak-mbak berkostum maid berjajar di sepanjang jalan, tak lupa dengan senyuman demi mempromosikan kafe mereka. Dengan tingginya penguasaan teknologi, kesejahteraan masyarakat, etika sosial, serta minimnya masalah, Jepang pantas untuk mengembangkan peradabannya melalui seni dan hiburan. Namun, seolah terasa ada yang hampa. Banyak kisah di animenya menggambarkan kehampaan ini: tujuan dan makna hidup. Belajar, bekarja, hiburan, tujuan apa yang dikejar dari siklus hidup ini? Bagaimanapun, dengan sadar atau tidaknya akan kehampaan ini, kenyataannya manusia berlalu lalang di jalanan Akihabara dengan senyuman. Tak ada yang mampu menutupi warnanya.

Akihabara, Tokyo
11 Januari 2019

Sabtu, 13 April 2019

Kisah Tokyo: Istana Sampah


Detik tetap berjalan tanpa menoleransi kepentingan kami pagi itu. Udara dingin merasuk membekukan hidung hingga pangkalnya. Di bawah sana, bebek mengapung menikmati ketidakpeduliannya atas waktu. Di Minato, aliran tanpa pengotor itu terhubung langsung dengan laut. Jauh di sana, laut yang tenang bersanding serasi dengan suasana perkotaan yang damai. Kami menuruni tangga, meninggalkan kenikmatan lanskap penuh harmoni itu. Cerobong tanpa asap menjulang tinggi ke langit ditemani pabrik yang beraktivitas tanpa suara. Inilah tempat tujuan kami: istana para sampah.

Minato Incineration Plant merupakan satu dari 21 insinerator di Tokyo, istana para sampah. Di antara empat kasta sampah di Tokyo, hanya sampah terbakar (combustible waste) yang tinggal di istana ini. Setiap hari, sampah yang telah dikumpulkan masyarakat Minato diangkut ke tempat ini. Seperti halnya kelahiran manusia yang selalu diimbangi dengan kematian, kedatangan sampah pun diimbangi dengan kepergian. Realitas ini begitu berbeda dari tempat pembuangan akhir (TPA) yang kujumpai di Bandung di mana hanya ada kedatangan tanpa kepergian. Sampah menua di sana, abadi.

Jepang bukanlah masyarakat yang berkompromi dengan sampah. Agar dapat hidup bersama masyarakat, sampah pun harus menunjukkan seberapa besar dirinya berguna. Kejam memang, tidak seperti negeriku yang begitu baik hati hingga membiarkan sampah hidup bebas bersama masyarakat tanpa melakukan apa pun. Minato Incineration Plant menjadi tempat para sampah untuk mengembangkan dirinya, menjadikan dirinya berguna.

Anggap saja Minato Incineration Plant sebagai sekolah berbasis semimiliter yang mendidik para sampah. Sebelum kelulusan, terdapat tiga kelas yang harus dilalui. Dari truk pengangkut sampah, mereka memasuki kelas pertama, waste bunker. Di dalam ruangan besar berkedalaman lima meter, sampah dikumpulkan bersama. Dengan penjepit bernama waste crane, sampah-sampah dalam waste bunker diangkat dan dikirim ke kelas selanjutnya, insinerator. Setelah dibakar hingga temperatur 800oC, jati diri sampah pun berubah. Mereka menjadi abu. Abu panas dimasukkan ke kelas selanjutnya, ash conveyor di mana mereka didinginkan dalam air, kemudian berakhir ditampung dalam ash bunker. Di sini, sampah telah dewasa dan siap berperan dalam masyarakat. Beberapa abu digunakan untuk membuat semen, ada yang dicairkan menjadi slag agar dapat bermanfaat lebih, ada pula yang dikirim ke landfill untuk membentuk pulau buatan. Logika umum menyatakan bahwa pembakaran akan menghasilkan asap. Di Tokyo, asap ini tak bisa dibiarkan hidup begitu saja. Sebelum keluar melalui cerobong, asap dengan kandungan dioksin, debu, raksa, asam klorida, dan sulfur oksidanya mengalami berbagai proses fisik dan kimia yang lebih panjang daripada proses pengolahan sampah itu sendiri. Gas sisa itu dikeluarkan tanpa mengakibatkan polusi yang mengganggu masyarakat.

Landfill berada tak jauh dari tempatku berdiri. Tidak seperti di negeriku yang identik dengan gunung sampah, landfill Tokyo tak menunjukkan jati dirinya sebagai tumpukan tak berguna. Kreativitas masyarakat Jepang mengubah tumpukan sampah itu menjadi pulau buatan. Di sini, kasta sampah kedua dan ketiga, yaitu sampah tak terbakar (incombustible waste) dan sampah besar (large-sized waste) banyak berperan. Setelah mengalami pemisahan dalam Incombustible Waste Processing Center dan Large-sized Waste Pulverization Processing Facility, logam yang didapatkan dari sampah-sampah ini dikumpulkan dan dapat digunakan kembali, sementara sisanya dipadatkan menjadi balok-balok. Balok-balok ini ditumpuk di atas pondasi landfill yang tergenang laut. Tumpukan yang semakin tinggi dan meluas kemudian ditutup dengan batu. Begitulah legenda terjadinya Odaiba, pulau buatan Tokyo.

Kasta sampah terakhir adalah sampah daur ulang (resource waste) yang terdiri dari sampah-sampah plastik, botol, dan kertas. Setiap kota di Tokyo memiliki pemrosesan yang bervariasi. Bagaimanapun, keluaran dari proses daur ulang sampah adalah barang yang berguna.

Salah satu prinsip Jepang, recycle, tidak hanya menjadi konsep dan wacana belaka. Abu, pulau buatan, logam-logam, dan barang-barang daur ulang menjadi bukti implementasinya. Bahkan, recycle sendiri hanyalah satu prinsip terakhir. Dua prinsip yang mendahuluinya adalah reduce (mengurangi) dan reuse (menggunakan kembali). Ketiga prinsip itu kerap disebut 3R. Sebelum memasuki tempat sampah, perlu dipertanyakan apakah sampah itu benar-benar tidak bisa dipakai kembali. Bahkan, sebelum menggunakan barang yang berpotensi menjadi sampah, perlu dipertanyakan apakah ada barang lain yang bisa digunakan. Begitulah prinsip 3R mendarah daging dalam masyarakat.

Matahari menunjukkan teriknya yang tak terasa, mengingatkan bahwa sudah saatnya kami beranjak dari istana ini. Tampak di seberang sana anak-anak bertopi kuning berjalan bersama guru mereka. Implementasi konsep tak bisa berjalan tanpa adanya sosialisasi. Jepang menurunkan konsep ini kepada generasi penerus sejak masih kecil. Selain pembudayaan oleh orang tua, jenjang sekolah sejak TK pun mengajarkan etika mengenai sampah. Tak kusangka, bahkan anak-anak berwajah lucu dan lugu seperti mereka telah mengemban nilai yang begitu penting.

Kami kembali menyeberangi jembatan. Tidak adanya satu pun plastik yang berlayar membuat pemandangan bebek berenang kala itu terasa mengharukan. Seperti halnya masyarakat yang selalu taat aturan, sampah pun tahu diri. Bila bukan karena angin yang usil, sampah selalu berada di tempatnya. Memang sulit bila harus seratus persen tanpa sampah, tetapi selama perjalanan kami, sampah yang keluar dari zonanya bisa dihitung dengan jari satu tangan. Tokyo telah menjadi gambaran kota yang berdamai dengan alam. Masyarakat tanpa basa basi dan omongan panjang menunjukkan jati dirinya sebagai khalifah bumi. Bebek-bebek itu menjadi bukti harmoninya.

Tokyo, 10 Januari 2019

Selasa, 09 April 2019

Kisah Tokyo: Evolusi



Langit malam Tokyo sama hitamnya dengan langit malam yang kulihat di Bandung. Seketika angin bertiup membisikkan kemungkinan mati membeku di pinggiran jalan. Berada bebas di luar sana tengah malam sudah seperti terkunci di dalam kulkas bertemperatur di bawah empat derajat. Namun, Tuhan berkehendak lain. Kami dibiarkan hidup dalam naungan penginapan bertemperatur tropis. Seseruput kopi terasa begitu nikmat. Tak terpikir bahwa kami telah berada di tempat yang menjadi pondasi “pohon langit”, menara Skytree. Selamat datang di Sumida. Cerita memang telah bermula, tetapi mulai dari sini, bab baru dibuka.

Paginya kami kembali mengunjungi sang pohon langit yang sudah menjadi latar belakang foto pertamaku di Tokyo malam itu. Tak terbayang bahwa menara tertinggi di dunia itu tadinya hanyalah tumpukan baja, yang dulunya lagi hanyalah bijih yang terkubur di dalam tanah. Seolah-olah manusia telah membangkitkan monster yang tersegel bumi jutaan tahun lamanya. Sang monster memang telah bangkit dan berdiri gagah 634 meter tingginya, tetapi dia tetap tunduk di bawah kekhalifahan manusia dan menjadi saksi bisu evolusi mereka.

Rumornya, kami bisa melihat pemandangan indah gambaran penuh Tokyo dari atas sana. Namun, keterbatasan dana memaksa kami untuk sekadar menumpang lewat. Lampu berbentuk manusia menyala merah, mengisyaratkan kami untuk berhenti. Tak banyak kendaraan yang lewat di depan kami, tetapi kami tetap menunggu lampu itu berganti hijau. Sempat terpikir kenapa orang-orang tidak menyeberang begitu saja seperti yang biasa kami lakukan di tanah air. Bahkan di tengah malam yang kosong, dingin, dan sunyi pun nyala merah lampu itu tetap membuat langkah kami terhenti. Mungkin karena negeri ini sudah lebih dewasa.

Suara gagak menyambut kedatangan kami, anggap saja sedang meneriakkan, “Selamat datang di Universitas Tokyo!” Pohon-pohon berjajar indah. Desir angin kembali menyapaku, kali ini mengingatkanku akan salah satu teori warna, “analog”. Langit jingga cerah, bangunan dari tumpukan batu bata, pohon berbatang coklat dan dedaunan hijau menyusun skema warna fotografi yang serasi. Sampah yang terbungkus rapi dalam plastik kuning pun masih terlihat pantas. Buntelan sampah itu bak pemeran figuran yang kami lewatkan begitu saja tanpa kami sadari legenda hebat yang bersembunyi di baliknya.

Mitosnya, burung gagak adalah pembawa bencana. Mitos itu tak sepenuhnya salah. Bagi masyarakat Jepang, keberadaan gagak bisa mengganggu karena mereka akan mengacak-acak sampah dari kantungnya. Bagi gagak yang penglihatannya jauh lebih baik daripada manusia, menemukan sejumput sisa makanan dalam kantung plastik adalah hal yang mudah. Namun, akal dan pengalaman manusia mampu mengalahkan penglihatan gagak. Kantung sampah dengan warna kuning tertentu diciptakan untuk mengeblok penglihatan gagak sehingga mereka akan melewatkannya begitu saja. Kantung sampah ini memang sering dilewatkan layaknya tokoh figuran. Namun, keberadaannya menjadi bukti salah satu lompatan manusia, khususnya Jepang. Bila gagak adalah dinding masalah, melompatinya artinya berevolusi.

Gagak itu mengingatkanku akan kondisi tempat sampah di negeriku yang cenderung acak-acakan. Masalah yang sama tetapi dengan musuh berbeda. Bila Jepang menghadapi gagak, tempat asalku menghadapi makhluk imut yang disebut kucing. Biarpun gagak adalah hewan menakutkan sementara kucing menggemaskan, keduanya memiliki insting untuk mencari makan. Gagak memanfaatkan ketajaman penglihatannya, sedangkan kucing memanfaatkan ketajaman indra penciumannya. Sayangnya, negeriku belum mampu melewati dinding masalah itu. Mungkin karena negeriku belum dewasa, lompatan kucing masih lebih tinggi hingga bahkan mampu mencapai tempat sampah yang tingginya berkali lipat tubuhnya.

Salah seorang guru pernah berkata bahwa manusia belajar dari masalah dan pengalaman, bukan dari fasilitas. Seseorang dari Kedutaan Besar Republik Indonesia mengingatkanku kembali akan pesan itu. Ketika kami memintanya menceritakan pengelolaan sampah di Tokyo, beliau bercerita mengenai Jepang sebelum 1970. Penyakit aneh yang kemudian disebut penyakit minamata telah merenggut ribuan jiwa. Selidik demi selidik, sebuah korporasi dinyatakan sebagai tersangka dengan tuduhan pelepasan metil merkuri ke laut. Ikan memakan metil merkuri dan masyarakat memakan ikan. Rantai makanan ini berubah menjadi rantai penyakit. Sidang antara masyarakat melawan korporasi akhirnya dimenangkan oleh masyarakat. Insiden ini memang menjadi salah satu dari empat mimpi buruk Jepang, tetapi sekaligus menjadi titik balik masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kesehatan. Sistem dibangun, dinding minamata berhasil dilompati, evolusi bergerak satu langkah.

Evolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan dalam jangka waktu yang lama. Sebagai organisme, manusia telah mencapai bentuk yang paling sempurna. Namun, tidak seperti hewan yang hanya memiliki komponen “wujud” dan “nafsu”, manusia juga memiliki komponen malaikat dan iblis yang disebut sebagai “akal” dan “hasrat”. Keseluruhan komponen itu membuat manusia bisa berevolusi melebihi level organisme. Seperti halnya organisme uniseluler yang berkembang menjadi multiseluler, manusia yang merupakan individu berevolusi menjadi suku. Suku berevolusi menjadi bangsa, bangsa berevolusi menjadi negara, dan negara terus berevolusi untuk mencapai bentuk paling stabilnya. Bila akal adalah kaki dan hasrat adalah kekuatan, evolusi suatu negara ditentukan oleh seberapa besar hasrat milik manusia yang menjadi bagiannya.

Malam itu kami menuju Shibuya, bermaksud mencari kedai ramen berlabel halal. Berbekal lembar peta jalur kereta bawah tanah dengan huruf kana yang telah ditransliterasikan, kami menuju stasiun. Tanpa perintah mengantri, orang-orang membentuk barisan antrian dengan sendirinya. Sebelum masuk, mereka mempersilahkan penumpang untuk keluar. Di dalam kereta terasa hangat. Bila beruntung, kami bisa mendapatkan tempat duduk. Poster-poster tertempel rapi di dinding atas kereta. Setibanya di stasiun Shibuya, kami naik ke permukaan dengan eskalator. Aku sudah terbiasa dengan kebiasaan masyarakat untuk berada di sisi kiri eskalator bila memilih diam dan bergeser ke sisi kanan bila ingin berjalan. Mereka yang terburu-buru tidak akan terhambat. GPS menuntun kami menuju daerah yang cenderung lebih sepi. Namun, seterpencil apa pun, tempat itu tetap elegan. Dilihat dari sisi mana pun, Tokyo adalah kota yang ideal. Interaksi antara teknologi, kebiasaan sosial, dan profesionalisme melahirkan sistem yang membuat Jepang menjadi negara yang stabil. Jepang telah mencapai tahap evolusi yang jauh, jauh lebih dewasa daripada negeriku. Ya, negeriku memang masih anak-anak.

Keesokan paginya, aku menjadi lebih bersemangat. Dinginnya udara lingkungan distabilkan dengan pemanas ruangan hasil olah pikir manusia. Seperti hari sebelumnya, kami melalui trotoar Sumida yang bahkan lebih lebar daripada jalan rayanya. Kulihat langit seperti kali pertama aku berada di sana. Apa paerasaanku saja, atau langitnya memang lebih biru daripada langit di Bandung sana?


Tokyo, 9 Januari 2019

Minggu, 02 April 2017

Apa Bedanya Apel, Ceri, dan Kersen?


Bulat Merah
Kok ada pertanyaan begitu sih? Kan jelas apa bedanya. Apel besar, dan perlu usaha lebih besar untuk menggigitnya. Ceri lebih kecil, lebih lunak digigit. Kersen lebih kecil lagi, dan lebih lunak lagi. Sekarang perhatikan gambar ini. Ini awalnya hanya gambar ceri. Tapi kemudian semua berubah ketika negara api menyerang saya edit dengan Photoshop. Saya tempel sebutir apel dan sebutir kersen. Coba, mana apel dan kersennya?

Intinya, ketiga benda ini punya dua persamaan utama.
Buah
Bulat
Merah
Oke, pernyataan tersebut hanya untuk penegasan bahwa saya tidak gila atau bodoh karena tidak bisa membedakan mana yang apel, ceri, dan kersen. Nah, apa yang membuat saya bingung adalah, gambar apakah ini?

Gambar itu adalah logo yang saya buat untuk blog saya. Niatnya, saya ingin membuat gambar apel, karena kata Steve Jobs, apel itu bentuknya artistik. Tapi, karena keterbatasan kemampuan gerak-gerik tangan saya dalam menggambar, akhirnya yang tercipta adalah gambar buah (iya gak sih?) berbentuk lingkaran, berwarna merah, dan memiliki tangkai hijau, yang mana ciri-ciri ini mengacu pada apel, ceri, dan kersen.
Atau... mungkin Anda tahu buah lain yang mirip buah tersebut? Jadi, bagaimana menurut Anda?

Sisi Positif
Ketika saya di dalam acara Motivation Day FTI, ada yang menarik dari sebuah himpunan jurusan. Saat itu kami disuruh main game yang gaje (gak jelas). Terus, setelah selesai, mereka tanya, “Apa esensi dari game ini?”
Nah, seorang teman saya menjelaskan dengan keren, bahwa game gaje ini punya esensi yang luar biasa. Menambah wawasan lah. Berpikir kritis lah.
Terus mereka bilang, “Nah, jadi game ini tuh gak ada esensinya. Jadi, esensinya, apa pun yang sebenarnya gak ada esensinya, bila kalian mencari-cari esensinya, pasti selalu ada.” Jadi, intinya, kalau kita memandang segalanya dari sudut pandang positif, kita akan menemukan hikmah.
Kata Ust. Hanan juga, di islam pun kita mengutamakan hikmah. Kan banyak di Alquran yang begini. “Sesungguhnya, dari yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir.” Allah tuh mau hambanya mencari hikmah di kehidupannya. Itu saya kutip dari ceramahnya Ust. Hanan loh, ya. Da aku mah apa. Hanya sebongkah berlian di antara butiran kerikil butiran rengginan di dasar toples terdalam.

Oke, sekarang kita pandang saja gambar gaje saya secara positif. Kita buat dia berfilosofi. Intinya, kalau kita mau membangun kebersamaan, jangan bawa-bawa perbedaan. Coba cari persamaannya, maka keharmonisan akan terbentuk (haseeek). Coba lihat gambar ini lagi.

Meski yang lain ceri, sementara ia hanyalah sebutir kersen seorang diri, dan ia adalah si cantik apel, bila mereka membawa kebersamaannya, maka harmonisasi warna merah tetap terjaga. Si kecil kersen pun tak merasa sendiri, dan si cantik apel pun berendah hati.
Coba kita cari-cari perbedaannya. “Itu kan pas lagi merah aja. Dibuat-buat mengkilap lagi. Pasti ada lilinnya. Coba kalo itu pas lagi ijo.”

Si kersen pun akan  merasa  dirinya hanya sebuah keberadaan kecil yang tak berarti. “Da aku mah apa. Hanya butiran empuk yang akan terinjak dua menit lagi.” Keharmonisan warnanya pun jadi terganggu.
Mungkin filosofi yang lebih utama dapat ditanamkan dari gambar saya itu seperti yang saya dapat ketika Motivation Day. Ketika melihat logo saya itu, ingatlah. Coba cari sisi di mana dapat kita temukan hikmah. Cari sendiri saja filosofinya. Terapkan untuk semua yang terjadi dalam kehidupan kamuuuuu, aku, dan kita.
Oh iya, itu di logo yang saya gambar, ada bundar di tengah, maksudnya udah digigit ya. Biar artistik, kayak katanya Steve Jobs.

Sekian catatan singkat saya. Semoga selalu ada hikmah, ya.

Selasa, 01 Desember 2015

Berlari Kemudian Berenang

Ketika kau berlayar di waduk ini sore hari, pandanglah segala yang mengelilingimu. Kau akan mendapati dirimu sedang dikepung pepohonan. Jangan menatapnya terlalu dalam, karena kau akan mendapati mereka tiba-tiba bergerak. Bahwa alam memiliki lantunan nada dengan jutaan warna, bahwa gunung melahap surya selayaknya kantung semar menjebak serangga tak hanya kau nikmati sebagai deretan kata ini. Kau mungkin berpikir kau juga akan mendapatkannya di lain tempat. Bisa jadi. Tapi, kau tak akan mendapati seorang wanita yang berlari mengitarimu di tempat lain.
Jangan berharap kau akan mendapat jawaban dari pertanyaan darimana datangnya, karena ia selalu muncul tanpa salam peringatan. Terima saja, karena bahkan kuantum mengizinkan kemungkinan kau tiba-tiba berpindah dari bumi ke mars.
Siluet kelapa melambaikan tangan kepadanya, mendapatkan balasan serupa bersama senyuman persahabatan. Barangkali ia tak mengerti bahwa pohon itu takkan memahaminya.
Sedari datangnya, telapak kakinya telah polos. Dalam sudut pandangnya, butiran dalam pijakannya serupa dengan dirinya. Jutaan tahun bergulat dengan unsur alam lain hingga padat susunan kristalnya diremas hingga serapuh perasaannya. Entah bagaimana dalam sudut pandang si hasil erosi.
Diam saja dan duduk di sana, tutup mulutmu! Kamu takkan pernah mengerti. Sebenarnya kamu ini apa? Ia tiba-tiba berkata demikian dalam hatinya. Tak ada yang bicara dari tadi. Entah kepada siapa ia bicara, tak ada pendengar nyata. Tiba-tiba ia melesat. Tiada aba-aba bersedia, siap, mulai sebagaimana hari-hari para pelari. Bukan jogging yang ia lakukan. Berlari, terus berlari, begitulah dia. Ia takkan berhenti kalau itu baru separuh, tiga perempat, sembilan persepuluh, atau sembilan-puluh-sembilan perseratus keliling waduk itu.
Sulit dibayangkan Dewi Logika mampu melaluinya. Itu adalah sebutan yang pantas baginya. Alam mengilhaminya dengan deretan angka, hingga mereka selalu berjajar rapi dalam perenungannya. Orang biasanya ditaklukkann oleh pikiran, tapi ia mematahkannya.
Indah bukan, bagaimana caramu berekspresi? Melontarkan seluruh tekanan dalam hatimu seperti ketapel. Kau membuat dirimu menjadi seperti mereka. Menyimpan energi potensial kemudian melepaskannya menjadi bentuk lain.” Kata-kata itu tiba-tiba muncul tanpa sumber. Hanya bergema begitu saja dalam hatinya. Terdengar seperti seorang anak yang bicara, tapi tak sekalipun ia mengerti itu apa. Tapi ia bukanlah anak kecil. Kau akan paham jika kau terus mendengar suara itu seperti dirinya.
Sang dewi ini memiliki nama lain Ima. Kata sederhana yang sering bergema di telinga mereka yang berikatan dengannya. Adakah yang seperti itu baginya? Mungkin setiap langkahnya adalah jelmaan angka, namun dalam hatinya, emosi yang berlapis lapis mengitari dengan jutaan putaran di tiap detiknya, seperti elektron.
Pernahkah kau mendengar kisah mengenai elektron dari Bohr? Taksiran awan negatif pengitar inti. Apa yang terjadi jika gelombang berfrekuensi tertentu mengenainya? Maka ia akan menjauh dari inti, berpindah ke tingkat energi di atasnya. Bagaimana jika ia berpindah lagi ke tingkat di bawahnya? Maka ia akan memancarkan gelombang.
Begitulah kiranya hati manusia, begitu pula hati Ima. Segala yang terjadi di dalamnya berubah bentuk menjadi aksi nyata sel-sel penyusun tubuhnya. Gerak, keringat, air muka. Energi, itulah intinya. Seberapa besar yang ia buang ke lingkungan adalah seberapa besar yang berkecamuk dalam dirinya. Aturan Tuhan ini orang sebut sebagai Hukum Termodinamika I.
Mengapa entropi dalam hatimu terlampau besar? Jika kau hanya menyimpan semua itu sementara ruang dalam hatimu tetap, tekanan akan meningkat dan akan merusak ikatan antarsel hatimu dan melukaimu. Apa kau berusaha memahami perasaan alam sebagaimana kau memahami perasaanmu sendiri?” Suara itu bergema lagi. Suara anak kecil, perempuan.
Dalam kehidupan sehari-harinya, orang mendapatinya sebagai seorang wanita tenang. Senyum hangat tidaklah sepi jika bersamanya. Ia juga dapat tertawa jika ada canda gurau yang merangsang hatinya. Percayalah, kau akan betah jika bercakap-cakap dengannya. Tutur bukan sekadar kata jika itu keluar dari mulutnya. Perasaan sering kali berosilasi dan merambat bersama suaranya.
Hanya itu yang orang tahu tentangnya. Mereka takkan pernah menggapai perasaan Ima yang sebenarnya, karena ia tak sekalipun menampakkannya. Lubuk hatinya mengerti secara spontan kapan ia harus bersikap normal dan kapan harus melontarkan energi potensial yang terkandung di dalamnya. Hukum aksi-reaksi seolah mendapat pengecualian karena mereka takkan dapat membalas sebanding dengan apa yang Ima berikan.
Mereka memperlihatkan segalanya padamu. Kau memahami mereka dan kau merasa mereka akan memahamimu. Alam mengandung keindahan dan kau tahu itu. Alam adalah jelmaan matematika dan kau juga tahu itu. Apa lagi yang kau coba pahami darinya?” Suara itu lagi-lagi terngiang dalam pikirannya.
Tes! Kau mungkin akan mendengar suara itu kalau saja angin tak mendesir, kalau saja burung tak bernyanyi, kalau saja daun-daun kelapa tak saling bergesekan satu sama lain. Berkas cahaya jingga mengenainya sebelum hancur karena batu yang ditimpanya, berkilau. Matanya terpejam, diremas otot-otot dahinya. Titik lain mengembun darinya, kembali memancarkan kilauan bintang.
Tiba-tiba, buk! Ia terjatuh. Beruntung daerah berbatu besar lagi tajam telah tertinggal jauh di belakang. Beberapa butir pasir memasuki matanya, membuatnya harus menggoresnya hingga memerah.
Sebuah suara meledak mengalahkan lantunan nada alam. Ima menjatuhkan sauh menahan perasaannya, kemudian bergegas menuju sumber suara. Tak heran jika tangis itu seolah uranium yang membelah. Ia hanyalah seorang anak-anak, satu fase metamorfosis manusia yang rentan akan luka.
”Maaf, Dik. Adik terluka?” Ia memegang erat tubuh anak perempuan itu, menegakkannya. Ia tak lebih tinggi dari perutnya. Tangan halusnya dengan lembut mengusap butiran tanah yang terikat adhesi dengan kulit dan pakaian anak itu. Tangis belum mereda.
”Sini, Kakak gendong.” Ia kembali memegang erat tubuh anak itu, mengangkatnya lebih tinggi, kemudian memeluknya erat. ”Ibu dimana, Dik? Kenapa Adik sendiri?” Anak itu tak memberi jawaban selain tangis yang tak kunjung reda. ”Sayang, ayo, kita jalan-jalan.” Jemari tangan kirinya mengusap air mata dari wajah anak itu sementara tangan kanannya menopang berat yang cukup menguras tenaga.
Anak itu masih mengambil napas dengan tersendat, tapi binar di matanya mulai terlihat. Cahaya yang sedari tadi mengantri di depan garis tipis tambang embun kini memasukinya berbondong-bondong. Sosok dengan wajah berseri yang membelakangi mentari muncul sebagai bayangan indah di matanya. Tanpa ia sadari, gerak naik turun seperti di kapal terjadi padanya mengiringi setiap langkah yang Ima ambil.
Ima memberi tutur-tutur hiburan bagi anak itu selagi ia menyusuri seluruh sisi waduk. Harapan akan bertemu seorang yang peduli membara di hatinya. Ya, ia telah mengisap cukup banyak oksigen untuk mendukung reaksi pembakaran itu.
Setiap sudut ia datangi. Kepalanya muncul di setiap sisi batu besar seolah bermain petak umpet.
Jingga di barat telah sepenuhnya padam. Gelap di timur menjalar menyelimutinya. Gradasi warna di langit telah diaduk-aduk dengan kuas kuasa alam hingga menjadi hitam pekat. Sabit emas telah menggantung berseri ditemani kawan-kawan kecilnya.
”Orang tua Adik dimana, ya? Dari tadi nggak ketemu nih.” Ima mulai risau.
”Orang tua? Apa itu orang tua?”
Ima hanya menatapnya tak mengerti. Anak seusianya seharusnya mengerti apa arti ibu, ayah, atau keluarga. Atau mungkin ia memang tak pernah mengenali mereka? Ima mengambil langkah baru sekiranya menginjakkan kaki di setiap butir tanah di sekeliling waduk takkan berhasil. ”Kita ke rumah Kakak dulu, yuk.” katanya sambil tersenyum.
Hanya bayangan yang menyambut kepulangannya. Inikah yang ia rasakan? Hanya ditemani nyala lentera setiap harinya. Api bahkan hanyalah bentuk energi, tercipta dari minyak yang menyambut kemudian berikatan dengan oksigen, bukan berikatan perasaan dengan manusia. Ima tetap tersenyum kepadanya.
”Kenapa tidak ada siapa-siapa di sini?” Anak itu mulai buka mulut.
”Yah... semuanya telah... pergi.” Ima lesu, kemudian terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali cerah. ”Kita lihat bintang aja, yuk. Hari ini begitu cerah.”
Ima menggelar tikar menyelimuti rerumputan kecil di depan rumahnya. Ia tak ingin merasakan sensasi perbedaan suhu tubuhnya dengan rerumputan yang dingin. Mereka terbaring bersama di sana, menikmati pesona antariksa yang baginya tak hanya memancarkan cahaya, namun juga pesona angka. ”Indah, ya? Seperti gula.”
”Hm? Gula?” kata anak itu. ”Maksudmu sukrosa? Bagaimana mungkin hidrogen bertekanan tinggi disamakan dengan sukrosa yang wujudnya kristal?” kata anak kecil itu.
Ima terperanjat. Seorang anak yang tak memahami makna keluarga bahkan memahami konsepsi alam yang sedemikian rupa. Siapa sebenarnya anak itu?
”He...he... ya, sukrosa. Glukosa dengan fruktosa. Tentu saja. Aku bingung bagaimana aku bertemu denganmu. Seperti ini telah direncanakan.”
”Begitu banyak konsep alam yang terwujud dalam bilangan, bukan? Ruang bertemu waktu, kemudian saling rajut. Itukah inti dari segalanya? Inti dari rencana?” kata anak itu.
”Ya. Susunan yang begitu teratur.”
”Apakah Kakak memiliki teman? Di kehidupan nyata, maksudku.”
Ima termangu. Bola matanya semakin redup, lebih redup dari magnitudo bintang yang berada pada jutaan paralaks ditambah efek resapan dari berbagai debu yang bertebaran di antaranya. ”Ya. Mereka teman-teman yang baik dan aku menyayangi mereka. Apakah kamu pernah merasakan kehilangan?”
”Kehilangan? Apakah seperti ketika ketika atom kehilangan elektronnya dan menjadi ion positif?”
”Namun tidak begitu. Kehilangan tidak memberikan sesuatu yang positif bagiku.” Matanya kembali berembun. Ikatan yang ia bentuk bersama sesama manusia lebih dari bagaimana ikatan antarmanusia pada umumnya. Tak sekadar singgung antarorbital atom, melainkan saling tarik menarik dengan kuat, tumpang tindih seolah ikatan sigma, membentuk sesuatu yang baru. Sesuatu yang apabila kemudian itu terlepas darinya, ruang dalam hatinya seolah orbital yang kosong.
”Apakah ikatan begitu indah?”
Ima tersenyum, masih menambang air mata. Pandangannya jauh ke atas, menambus bintang-bintang menuju tepi semesta, menerobosnya. ”Ya, begitu indah. Mereka bisa mengubahmu menjadi sesuatu yang baru. Kamu bisa membayangkannya seperti hibridisasi orbital.”
”Hmmm... sepertinya aku juga harus memiliki ikatan. Tapi dengan siapa ya? Apa Kakak mau berikatan denganku?” Ia mendongak menatap wajah Ima.
Ima balas menatapnya dan tampak kebeningan tercipta di antaranya. ”Ya, tentu saja. Sepertinya kita telah terikat.” Suaranya bersembunyi di balik angin. Tangannya membelai rambut licin anak itu, kemudian mendekapnya. ”Kamu anak yang lucu. Kakak belum tanya, siapa namamu?”
”Aku tidak tahu.”
”Tapi kamu harus memiliki nama sebagai penanda. Itu akan mempermudahmu membentuk ikatan.”
”Ya, aku paham. Seperti atom dengan satu proton bernama hidrogen, atom dengan sembilan proton bernama fluorin. Mereka berikatan dengan kuat, ya? Kalau begitu, aku ingin memiliki nama...” Anak itu menimbang-nimbang. ”Ima!” katanya.
”Tapi, itu namaku.” Kata Ima.
”Tapi, aku ingin memiliki nama itu.” Anak itu merengek.
”Baiklah. Kalau begitu, kita berdua adalah Ima, setuju?”
”Setuju.” Ia tersenyum lebar.
Langit tak pernah lelap. Tentu saja, karena ia bukan keberadaan yang tersusun dari karbon seperti mereka yang diselimutinya. Kebetulan hari ini 21 Maret, titik Aries. Bukan berarti bintang ini akan terlihat. Justru ketika ini Aries mustahil terlihat.
Jadi, inikah yang kau coba pahami?” Suara itu kembali bergema di pikiran Ima.
Diam! Pergilah dari mimpiku! Jangan menggaggu kebahagiaan yang sedang kualami!
Ternyata kamu tak mengerti, ya. Apakah kamu mencoba memahami tentang luka?
Luka di hati. Itu tak seperti luka di tubuh. Bagaimanapun aku memahaminya, luka seperti itu tak pernah bisa terwujud secara logika. Darimana sebenarnya datangnya luka? Itu seperti bilangan imajiner, tapi bukan. Luka itu nyata, ada.
Dari sinilah keberadaanku, keberadaan kita, bukan begitu. Dari dunia dimana akar min satu datang.
Aku terwujud oleh realita, dan kau bukan.
Aku hanya berusaha menemanimu. Apa kamu tidak mengerti? Keberadaanku ada karena keberadaanmu. Dan aku terwujud seperti luka yang terwujud dalam hatimu.
Segalanya kemudian memudar, dan...
Kedua matanya terbuka, segera. Emas berkilau di timur sana dengan cahayanya sendiri, seolah menyapa selamat pagi. Tiba-tiba, semak-semak bergesekan. Ia menatap ke kirinya dan Ima kecil sudah tak ada di tempatnya. Terlonjak, jiwa dan raganya terbangun sepenuhnya, kemudian melangkah cepat ke belantara.
Ini adalah jalan yang biasa dilaluinya. Jalan yang selalu menuntunnya menuju perwujudan ekspresinya. Gesek-gesek dedaunan semakin menggeser posisinya, menuju pintu cahaya.
Sampailah ia di ruang terbuka. Tempat di mana air yang hijau karena lumut menggenang. Tempat daun kuning berlayar karena tegangan permukaan. Tak hanya daun ternyata, namun sampan kecil juga mengapung bersamanya. Sampan dimana seorang anak berpakaian putih berdiri di atasnya. ”Ima!” Seru Ima, berharap Ima kecil akan berpaling dari posisinya. Tiba-tiba, sampan itu hancur begitu saja hingga Ima kecil masuk sepenuhnya dalam air. Jantung Ima berdegup semakin kencang, mengalirkan adrenalin yang konsentrasinya meningkat drastis.
Ia segera mengambil langkah, berlari seperti biasanya. Energi potensial yang terkandung di dalam dikeluarkan sepenuhnya. Ketika ia berada di tepian yang cukup dekat dengan tempat Ima kecil tenggelam, ia masuk dalam air, berenang ke arahnya. Namun, pandangannya semakin buram. Gerakannya semakin lambat. Tenaganya dikalahkan oleh air, kemudian raganya dilahap. Dengan keremangan cahaya di dalam sana, ia masih bisa menatap Ima kecil yang tak jauh darinya. Ia mendapati Ima kecil yang tenggelam tak berdaya, dengan kelopak mata mengatup, namun bibirnya tersenyum.
***
Orang-orang berkerumun di tepian waduk. Beberapa kemudian datang mengangkat tubuh yang telah dilahap air. Kuyup. ”Waduk ini telah tercemar. Kandungan ion mangannya sangat tinggi.” kata salah satu orang itu.
”Apakah ada orang lain yang tenggelam?”
”Tidak. Dia sendiri.”
***
Di tempat yang cahaya tak mencapainya, suara Ima kecil terdengar. ”Aku adalah Ima. Dan aku datang dari dunia di mana akar min satu datang.


Arsyad M.D.